DUNIA
3 menit membaca
Kesepian merenggut 100 nyawa setiap jam, menurut WHO
Laporan WHO mengungkap kesepian memengaruhi 1 dari 6 orang di seluruh dunia, meningkatkan angka kematian, memperburuk kesehatan mental, dan mengancam perekonomian baik di negara kaya maupun miskin.
Kesepian merenggut 100 nyawa setiap jam, menurut WHO
WHO mengungkapkan bahwa 1 dari 6 orang di dunia menderita epidemi kesepian. / Foto: Getty Images
9 Juli 2025

Bukan perang, kelaparan, atau penyakit yang diam-diam mempersingkat harapan hidup di seluruh dunia, melainkan kesepian—dengan ratusan ribu orang meninggal setiap tahun karena tak memiliki tempat bersandar.

Dalam laporan terbarunya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap bahwa 1 dari 6 orang secara global mengalami epidemi kesepian, kondisi yang kini dikaitkan dengan lebih dari 871.000 kematian setiap tahun—sekitar 100 nyawa setiap jam.

WHO memperingatkan bahwa dunia sedang berada di tengah krisis keterputusan sosial dengan dampak besar terhadap kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Dulu dianggap sebagai emosi pribadi, kini kesepian diperlakukan sebagai ancaman kesehatan global.

“Kesepian adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius, setara dengan penggunaan tembakau dan obesitas,” kata Dr Vivek Murthy, Ketua Komisi WHO untuk Koneksi Sosial sekaligus mantan Kepala Ahli Bedah Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan The Guardian, ia menggambarkan kesepian sebagai “sinyal adanya kekurangan esensial bagi kelangsungan hidup, yaitu koneksi sosial,” dan membandingkannya dengan kebutuhan biologis untuk makan.

Biaya tersembunyi dari keterputusan

Kesepian, yang didefinisikan sebagai tekanan akibat kesenjangan antara koneksi sosial yang diinginkan dan yang dimiliki, memiliki dampak terhadap kesehatan yang setara dengan merokok 15 batang rokok per hari.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, depresi, kecemasan, hingga penurunan fungsi kognitif. Mereka yang terisolasi secara sosial juga lebih rentan terhadap pikiran untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri.

Dampaknya tak hanya berhenti di ranah kesehatan.

Remaja yang merasa kesepian cenderung mendapatkan nilai rendah atau bahkan putus sekolah.

Sementara itu, orang dewasa yang menghadapi kesepian kronis sering kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan. Di tingkat nasional, keterputusan sosial menyebabkan kerugian miliaran dolar akibat menurunnya produktivitas, meningkatnya biaya kesehatan, dan hilangnya kepercayaan masyarakat.

“Di zaman ketika peluang untuk terhubung begitu banyak, semakin banyak orang justru merasa terisolasi dan kesepian,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Selain dampaknya terhadap individu, keluarga, dan komunitas, jika tidak ditangani, kesepian dan isolasi sosial akan terus membebani masyarakat dengan biaya yang besar dalam sektor kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan,” tambahnya.

Bukan hanya masalah negara kaya

Berlawanan dengan anggapan umum, kesepian bukanlah masalah yang hanya dialami lansia di negara maju. Faktanya, tingkat kesepian di negara berpenghasilan rendah mencapai 24 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan 11 persen di negara berpenghasilan tinggi.

Di kalangan remaja secara global, hingga 21 persen mengaku merasa kesepian, dengan angka tertinggi di antara para remaja.

Kelompok paling rentan—seperti pengungsi, migran, penyandang disabilitas, dan minoritas etnis—menghadapi hambatan tambahan untuk terhubung, termasuk diskriminasi, kemiskinan, atau kurangnya akses terhadap infrastruktur publik.

“Bahkan di dunia yang terhubung secara digital, banyak anak muda merasa sendirian. Seiring teknologi mengubah hidup kita, kita harus memastikan bahwa ia memperkuat—bukan melemahkan—koneksi antar manusia,” kata Chido Mpemba, Co-chair Komisi dan penasihat Ketua Uni Afrika.

Seruan untuk kembali terhubung secara global

Menanggapi krisis yang kian meningkat ini, WHO menyerukan kepada negara-negara untuk mengadopsi rencana aksi lima poin, termasuk mengedukasi publik guna mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya koneksi sosial.

Namun, solusi tidak hanya bergantung pada pemerintah.

WHO menyerukan tindakan di semua tingkatan: sekolah, tempat kerja, perencana kota, penyedia layanan kesehatan, hingga individu, semuanya memiliki peran.

Mulai dari membangun taman dan perpustakaan, menyediakan layanan terapi, hingga sesederhana menyapa tetangga—langkah-langkah untuk mengurangi kesepian seringkali sederhana, namun memiliki dampak yang luar biasa, ujar badan kesehatan dunia itu.

SUMBER:TRT World and Agencies
Lihat sekilas tentang TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us