DUNIA
2 menit membaca
Prancis kembalikan tiga tengkorak era kolonial ke Madagaskar
Ini menjadi restitusi pertama berdasarkan undang-undang yang disahkan pada 2023 yang mempermudah pengembalian sisa-sisa manusia dari koleksi publik Prancis.
Prancis kembalikan tiga tengkorak era kolonial ke Madagaskar
Prancis berupaya menghadapi masa lalunya yang kolonial dengan mengembalikan artefak dan sisa-sisa manusia dari museum-museumnya ke negara asal mereka. / Reuters
27 Agustus 2025

Prancis mengembalikan tiga tengkorak era kolonial yang selama 128 tahun disimpan di sebuah museum Paris ke Madagaskar, termasuk satu yang diyakini milik Raja Toera, seorang penguasa asal Madagaskar yang tewas dibunuh pasukan Prancis.

Tengkorak yang diyakini milik Raja Toera bersama dua lainnya dari kelompok etnis Sakalava itu diserahkan secara resmi dalam sebuah upacara di Kementerian Kebudayaan Prancis pada Selasa.

Prancis dalam beberapa tahun terakhir berupaya menghadapi masa lalunya sebagai negara kolonial dengan mengembalikan artefak dan sisa-sisa manusia dari museum-museumnya ke negara asalnya.

Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati menyebut pengembalian tengkorak yang sebelumnya tersimpan di Museum Sejarah Alam Nasional Paris ini sebagai “peristiwa bersejarah” bagi hubungan Prancis dan Madagaskar.

“Upacara ini juga menjadi simbol penyelesaian proses sejarah, ilmiah, dan memorial antara kedua negara,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan Madagaskar, Volamiranty Donna Mara, menyambut pengembalian tengkorak itu sebagai “momen penting bagi komunitas Sakalava dan bangsa Madagaskar”, seraya menegaskan bahwa sisa-sisa tersebut memiliki nilai budaya dan emosional yang besar.

“Mereka bukan benda koleksi; mereka adalah ikatan tak terlihat dan tak terhapuskan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu kita,” kata Mara.

“Ketidakhadiran mereka selama lebih dari satu abad, tepatnya 128 tahun, adalah luka terbuka bagi Tanah Besar dan khususnya bagi komunitas Sakalava di Menabe,” tambahnya.

Mara mengatakan pemerintah Madagaskar berencana menghormati sisa-sisa tersebut dalam sebuah upacara yang bertepatan dengan peringatan eksekusi Raja Toera pada akhir Agustus 1897 di Ambiky, saat masa kolonisasi Prancis di pulau Samudra Hindia itu.

SUMBER:Reuters
Lihat sekilas tentang TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us