DUNIA
5 menit membaca
Serangan mematikan Rusia guncang Kiev, Ukraina
Rudal dan drone menghantam Kiev, meruntuhkan gedung lima lantai, mengenai pusat perbelanjaan, serta merusak kantor delegasi Uni Eropa dan British Council.
Serangan mematikan Rusia guncang Kiev, Ukraina
Petugas penyelamat memadamkan kebakaran di rumah tinggal yang hancur akibat serangan Rusia di Kyiv, Ukraina, Kamis, 28 Agustus 2025. / AP
21 jam yang lalu

Rudal dan drone Rusia menghantam gedung apartemen di ibu kota Ukraina, Kiev, pada Kamis dini hari, menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai 48 lainnya. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan ini sebagai bukti jelas pengabaian terhadap upaya perundingan damai.

Administrasi Militer Kota Kiev (KMVA) mengonfirmasi jumlah korban tewas dan luka.

Kepala KMVA, Timur Tkachenko, mengatakan jumlah korban meninggal naik menjadi 18 orang, termasuk empat anak.

Tkachenko menyebut tim penyelamat berhasil mengevakuasi satu jenazah lagi, sehingga total korban tewas mencapai 18 orang.

“Kami mencatat 33 lokasi terdampak, dan tim penyelamat tengah menangani 18 di antaranya. Kerusakan tercatat di seluruh wilayah kota,” tulisnya di Telegram.

Kejaksaan Kota Kiev melaporkan dampak serangan pagi itu terjadi di delapan distrik ibu kota, termasuk Darnytskyi, Dniprovskyi, Solomyanskyi, Shevchenkivskyi, Holosiivskyi, Obolonskyi, Svyatoshynskyi, dan Desnyanskyi.

Di distrik Darnytskyi, sebagian gedung hunian lima lantai hancur. Operasi penyelamatan masih berlangsung untuk mencari korban yang kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan.

Jendela-jendela gedung tinggi di sekitarnya pecah, mobil-mobil rusak, dan rumah-rumah warga mengalami kerusakan, menurut kejaksaan.

Saat fajar, warga bersama tim penyelamat membersihkan puing-puing dari jalanan yang dipenuhi pecahan kaca dan material bangunan, lapor jurnalis AFP di lokasi serangan di pusat Kiev.

Serangan itu menciptakan kawah besar lima lantai pada salah satu gedung apartemen, hingga membelah bangunan menjadi dua bagian, seperti terlihat dalam gambar yang diunggah Zelenskyy.

“Rusia memilih rudal balistik alih-alih meja perundingan. Rusia memilih untuk terus membunuh ketimbang mengakhiri perang,” tulis Zelenskyy di media sosial.

“Ini berarti Rusia masih tidak takut akan konsekuensinya.”

Zelenskyy desak respons lebih keras

Zelenskyy menyerukan respons tegas dari sekutu Ukraina, termasuk sanksi baru.

Ia juga meminta sekutu Rusia, yakni China, serta anggota Uni Eropa Hungaria untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Moskow.

“Semua tenggat sudah dilanggar, dan puluhan kesempatan diplomasi telah dihancurkan. Rusia harus bertanggung jawab atas setiap serangan, atas setiap hari perang ini,” ujarnya.

Bulan lalu, serangan Rusia menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk lima anak, di Kiev.

Moskow menembakkan rudal balistik dan jelajah serta drone rancangan Iran, Shahed, dari berbagai arah untuk secara “sistematis” menghantam gedung-gedung hunian, kata Zelenskyy.

Selama serangan, warga bersembunyi di stasiun metro, sebagian terbaring di kantung tidur, sementara lainnya menggenggam hewan peliharaan mereka.

Sebuah gedung lima lantai di distrik Darnytskyi runtuh, sementara sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota juga menjadi sasaran, kata Wali Kota Kiev, Vitaly Klitschko.

Gedung delegasi Uni Eropa ‘rusak parah’

Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, mengatakan gedung delegasi UE di Kiev rusak parah akibat gelombang ledakan.

“‘Perdamaian’ versi Rusia tadi malam: serangan besar-besaran ke Kiev dengan drone dan rudal balistik... Gedung Delegasi UE rusak parah akibat gelombang kejut. Inilah jawaban nyata Moskow terhadap upaya perdamaian,” tulisnya di X.

Pemimpin Eropa kecam serangan Rusia

Para pemimpin dan pejabat Eropa mengecam keras serangan terbaru Rusia di Kiev. Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, mengatakan tindakan Moskow sekali lagi menunjukkan pengabaian terhadap perdamaian.

“Ketika dunia mencari jalan menuju perdamaian, Rusia merespons dengan rudal. Serangan malam ke Kiev ini menunjukkan pilihan sadar untuk meningkatkan eskalasi dan mempermainkan upaya damai. Rusia harus menghentikan pembunuhan dan berunding,” tulisnya di X.

Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan solidaritas kepada para korban dan misi UE di Kiev.

Presiden Parlemen Eropa, Roberta Metsola, juga menyuarakan keprihatinan atas staf UE yang menjadi target serangan.

“Staf di @EUDelegationUA adalah suara UE di Ukraina. Tadi malam, kantor mereka menjadi target serangan membabi buta lainnya dari Rusia dalam agresi tak masuk akal ini. Doa saya bersama seluruh tim kami di Kiev dan rakyat Ukraina yang berhak hidup damai,” katanya.

Komisioner Perluasan UE, Marta Kos, mengecam serangan tersebut sebagai “tanda jelas bahwa Rusia menolak perdamaian dan memilih teror.”

Ia menegaskan solidaritas UE dengan staf delegasi dan warga sipil Ukraina yang terus menanggung perang.

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, mencatat bahwa tidak hanya gedung delegasi UE, tetapi juga gedung British Council turut terkena dampak.

“Rusia sekali lagi menunjukkan bahwa ia tidak punya niat tulus untuk damai. Ia memilih teror, kehancuran, dan kebohongan daripada dialog. Belgia berdiri teguh dalam solidaritas. Kami tidak akan diam. Ukraina tidak akan sendirian,” tulisnya di X.

Kementerian Luar Negeri Norwegia juga mengecam serangan itu melalui pernyataan di X.

“Rusia sekali lagi membombardir Kiev dengan rudal dan drone secara brutal. Warga sipil Ukraina yang pemberani menderita akibat agresi ilegal Rusia. Kami mendesak Rusia segera mengakhiri perang. Respons kami adalah dukungan yang semakin kuat untuk Ukraina,” tulisnya.

Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, juga mengecam serangan itu, seraya menegaskan bahwa staf kedutaan Polandia selamat.

“Rudal Putin membunuh warga sipil Ukraina tadi malam dan merusak gedung Delegasi UE. Di kedutaan kami, semua orang selamat. Inilah cara Rusia ‘berjuang’ demi perdamaian,” ujarnya.

Serangan ini terjadi sehari setelah Kremlin menolak kemungkinan pertemuan cepat antara Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kiev menilai pertemuan semacam itu penting untuk memecah kebuntuan mengenai cara mengakhiri perang.

Moskow menuntut Kiev menyerahkan lebih banyak wilayah dan melepaskan dukungan militer Barat sebagai prasyarat kesepakatan damai — tuntutan yang ditolak oleh Kiev.

SUMBER:TRT World & Agencies
Lihat sekilas tentang TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us