Saya pertama kali bertemu dengan Aysenur Ezgi Eygi pada bulan Mei lalu di perkemahan protes mahasiswa di Amerika Serikat. Kami berkemah untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina dan menentang genosida yang dilakukan Israel di Gaza di Washington University. Pada saat itu, Ayse adalah salah satu mahasiswa yang memimpin dan mengambil peran penting dalam pergerakan mahasiswa ini.
Pemudi Turki-Amerika ini termotivasi untuk mencari keadilan bagi warga Palestina dan juga keadilan sosial lainnya selama masa kuliah dan setelahnya.
Jalan hidup mempertemukan kami untuk mencari pembebasan bagi rakyat Palestina, Ayse yang saya kenal adalah orang yang luar biasa - sangat baik, ramah dan pemimpin yang berani dan kuat. Gadis berusia 26 tahun ini adalah seorang yang sangat ramah dan memiliki banyak teman – dia selalu tersenyum dan memiliki energi positif.
Ayse selalu bersedia mengulurkan tangan ke orang lain dan memeriksa teman-temannya - bagaimana keadaan mereka dan apakah mereka membutuhkan bantuan apa pun, meskipun dia juga sibuk dan punya banyak hal yang harus dilakukan.
Keadilan untuk Semua Orang
Di antara beberapa ciri khas Ayse, saya ingat dia punya motivasi yang luar biasa. Dia mampu menyeimbangkan hal ini dengan humornya, berusaha membuat orang lain bahagia. Tetapi dia juga memiliki sisi serius dalam hal aktivisme.
Kepedulian sosialnya sering kali melibatkan pengorganisasian. Ayse sangat mencintai Palestina dan mengambil peran penting dalam perencanaan di perkemahan universitas – termasuk menjembatani hubungan antara mahasiswa dan pihak universitas.
Dia mencapai hal ini sambil menyeimbangkan kehidupan pembelajarannya sebagai mahasiswa, ia belajar keras di ujian akhir guna mendapatkan nilai yang baik sehingga ia akhirnya lulus dari University of Washington.
Ayse adalah orang yang percaya bahwa keadilan tidak hanya melibatkan perjuangan untuk rakyat Palestina, tetapi juga memperjuangkan kesetaraan bagi semua orang.
Perjalanannya sebagai seorang aktivis muda dalam mengembangkan kepedulian sosial, termasuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Beberapa tahun yang lalu, ia pergi ke Myanmar untuk mengamati genosida terhadap kaum Rohingya di Asia Tenggara.
Di Seattle Amerika Serikat, kota yang disebutnya sebagai rumah sejak meninggalkan kota Antalya, Turki di usia muda, Ayse juga aktif dalam memperjuangkan keadilan rasial, antara lain dengan terlibat dalam gerakan Black Lives Matter (BLM).
Ayse sangat jujur; ia selalu melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan cinta, berapa pun biayanya. Saya ingat bagaimana Ayse mencintai kehidupan dan betapa bersemangatnya dia untuk melanjutkan pendidikan dan mengunjungi wilayah okupasi West Bank.
Kunjungan ke West Bank atau Tepi Barat
Ayse sangat bersemangat akan pergi ke sana, melihat langsung dan menjadi saksi atas kenyataan di lapangan dan kenyataan bagi warga Palestina yang telah menghadapi kekuatan penuh okupasi militer sejak tahun 1967 di Tepi Barat dan genosida yang terjadi setelahnya.
Sejak serangan Israel terhadap warga Palestina meningkat pada bulan Oktober lalu, militer Israel telah menewaskan lebih dari 41.000 korban jiwa, sebagian besar wanita dan anak-anak. Sementara di wilayah terokupasi Tepi Barat, Israel kini telah menewaskan hampir 700 jiwa dan melukai lebih dari 5.700 lainnya.
Masih dalam konteks ini, selama interaksi kami yang sering bertukar pesan, Ayse mengungkapkan kepada saya bagaimana ayahnya dan para profesor di universitas sangat khawatir dengan keberadaannya di sana.
Namun, dia tetap kukuh. Ayse tetap ingin pergi ke wilayah terokupasi Tepi Barat untuk mendukung perlawanan Palestina terhadap penjajahan. Demi menyaksikan seperti apa kenyataan, kembali ke negaranya dan terus mengirimkan pesan tersebut kepada dunia - sebuah narasi yang sering kali disensor.
Alasan mengapa ia kukuh pergi ke sana bersama para aktivis perdamaian lainnya dari Gerakan Solidaritas Internasional (ISM ) ialah untuk terus mengirimkan pesan dan terus menunjukkan realitas okupasi Israel dan kebiadabannya kepada dunia.
Panggilan telepon terakhir saya dengan Ayse hanya beberapa jam sebelum dia dibunuh. Saya berbincang dengannya di telepon selama lebih dari dua jam.
Dalam perbincangan kami, saya merasa bahwa Ayse benar-benar menjelaskan pengalamannya dari lubuk hatinya. Dia mengatakan kepada saya betapa mengerikannya okupasi dan betapa sulitnya hidup di bawahnya - sebuah kenyataan yang dirasakan oleh warga Palestina seperti keluarga saya. Saya pernah ditangkap di sana; pasukan samaran menangkap saudara laki-laki saya. Ayah saya juga pernah ditangkap dan bahkan kakinya ditembak.
Kehidupan di bawah okupasi
Di seluruh wilayah Tepi Barat yang terokupasi hingga ke kota suci Yerusalem, ketika melewati pos pemeriksaan, kalian akan dihadapkan kepada apartheid dan bahayanya secara langsung.
Banyak warga Palestina yang sering ditembak dan dibunuh walaupun mereka tidak melakukan apa-apa. Teman-teman saya orang palestina di sana seringkali mengalami realitas ini, dikelilingi oleh banyaknya pos pemeriksaan, ancaman terhadap rumah mereka atau menolak masuk atau keluarnya tamu ke atau dari komunitas mereka. Banyak juga yang menghadapi ketidakadilan karena harus menunggu berjam-jam dipos pemeriksaan.
Selama panggilan telepon kami, Ayse berbagi cerita yang ia dengar dari penduduk setempat dan semua penderitaan yang diakibatkan oleh okupasi tersebut.
Kami juga berbincang tentang pengalamannya di Yerusalem dan bagaimana tentara Israel tidak mengizinkannya masuk ke Masjid bersejarah Al-Aqsa.
Dia juga menghadapi tekanan penuh dari pihak okupasi, sebuah realita sehari-hari bagi warga Palestina. Dia bercerita tentang bagaimana orang Israel mengambil paspornya di perbatasan, membuatnya menunggu sangat lama sambil menanyainya tentang rincian perjalanannya, sebelum akhirnya mengizinkannya masuk.
Kita akan mengenang Ayse, seseorang yang hidup untuk keadilan dan pembebasan Palestina hingga kematiannya. Kami tidak akan pernah melupakannya. Dunia tidak akan pernah melupakannya, dan kami akan terus berjuang hingga penjajahan ini berakhir.
Kita akan mengenang Ayse, seseorang yang hidup untuk keadilan dan pembebasan Palestina hingga kematiannya. Kami tidak akan pernah melupakannya. Dunia tidak akan pernah melupakannya, dan kami akan terus berjuang hingga penjajahan ini berakhir.
Isu utama yang sering ia bahas adalah penderitaan warga yang berada di bawah okupasi, meskipun ia hanya berada di sana selama beberapa hari saja.
Warisan
Sebelum dibunuh secara tragis, Ayse sudah punya rencana. Dia akan seharusnya bertemu dengan keluarga saya di kota Hebron beberapa hari kedepan, namun hal itu tidak akan pernah terjadi.
Kita akan mengenang Ayse, seseorang yang hidup untuk keadilan dan pembebasan Palestina hingga kematiannya. Kami tidak akan pernah melupakannya. Dunia tidak akan pernah melupakannya, dan kami akan terus berjuang hingga okupasi ini berakhir.
Kami akan selalu melanjutkan jalan yang telah ia tempuh dan memperkuat pesan keadilan dan kesetaraan kepada dunia sampai dunia ini berubah.
Peninggalan Ayse adalah menyatukan masyarakat di komunitasnya. Untuk mengenangnya, para serikat kemasyarakatan dan himpunan keadilan sosial akan berkumpul, terinspirasi oleh kekuatan dan hati nuraninya, mereka akan bekerja sama menuju perubahan yang Ayse tahu itu sulit tetapi harus selalu dikejar.
SUMBER: TRT WORLD