DUNIA
4 menit membaca
Lavrov mengatakan Rusia siap mencapai kesepakatan mengenai Ukraina
Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa masih ada "beberapa poin spesifik... yang perlu disempurnakan, dan kami sibuk dengan hal ini."
Lavrov mengatakan Rusia siap mencapai kesepakatan mengenai Ukraina
FOTO FILE: Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov Moscow mengatakan Moskow siap melakukan kesepakatan mengenai perangnya di Ukraina setelah Trump mendesak Putin untuk menghentikan serangan / Reuters
25 April 2025

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Kamis menyatakan bahwa Moskow siap mencapai kesepakatan terkait perang di Ukraina, setelah Presiden AS Donald Trump mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan. Seruan itu disampaikan menyusul serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir di Kiev, sebuah teguran yang jarang dilontarkan oleh Trump.

“Kami siap mencapai kesepakatan, tapi masih ada beberapa hal spesifik yang perlu disempurnakan, dan kami sedang mengerjakannya,” kata Lavrov dalam wawancara dengan CBS News.

Utusan Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan tiba di Rusia pada Jumat untuk mengadakan putaran pembicaraan gencatan senjata berikutnya dengan Putin. Lavrov menyebut proses negosiasi berjalan ke arah yang positif dan akan terus berlanjut bersama Washington.

Ia menyebut Trump sebagai “mungkin satu-satunya pemimpin dunia yang memahami perlunya menyelesaikan akar permasalahan konflik ini,” namun menambahkan bahwa Presiden AS tersebut “belum merinci elemen-elemen dari kesepakatan itu.”

Meski begitu, Trump secara langsung menyerukan kepada Putin untuk menghentikan serangan setelah rudal dan drone menghantam ibu kota Ukraina pada Kamis pagi, menewaskan sedikitnya 12 orang. Serangan tersebut merupakan gelombang terbaru dari kampanye udara Rusia yang telah menewaskan puluhan warga sipil, berlawanan dengan upaya Trump untuk segera mengakhiri konflik.

“Saya tidak senang dengan serangan Rusia,” tulis Trump di media sosial. “Itu tidak perlu, dan waktunya sangat buruk. Vladimir, BERHENTI!” tegas Trump, yang selama ini kerap dituduh bersimpati pada Rusia dan secara terbuka mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Ketika ditanya wartawan soal konsesi apa yang ditawarkan Moskow dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, Trump menjawab, “Berhenti mengambil alih seluruh negara—itu konsesi yang cukup besar.”

Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022 dengan keyakinan bisa menguasai negara itu dalam hitungan hari. Namun, dua tahun lebih berlalu, konflik berubah menjadi perang berdarah yang menelan banyak korban di kedua pihak.

Masalah Crimea

Zelenskyy mempersingkat kunjungannya ke Afrika Selatan untuk menangani dampak dari serangan terbaru. Ia mempertanyakan apakah sekutu-sekutu Kiev telah melakukan cukup banyak untuk menekan Putin agar menyetujui gencatan senjata total dan tanpa syarat.

“Saya tidak melihat adanya tekanan serius terhadap Rusia, atau sanksi baru yang benar-benar memukul agresi mereka,” ujar Zelenskyy, sambil mengingatkan bahwa Trump sebelumnya telah memperingatkan adanya konsekuensi jika Moskow menolak menghentikan pertempuran. Pada Rabu, Trump bahkan menuduh Zelenskyy menghambat upaya perdamaian karena menolak mengakui klaim Rusia atas Crimea—wilayah yang disebut Trump sebagai “sudah lama hilang.”

Moskow mencaplok semenanjung tersebut pada 2014. “Kami telah melakukan semua yang disarankan oleh mitra kami, kecuali yang bertentangan dengan hukum dan konstitusi kami,” kata Zelenskyy saat ditanya soal Crimea.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada Kamis menegaskan bahwa Moskow, bukan Kiev, yang harus membuat langkah berikutnya dalam proses negosiasi. “Bola jelas ada di tangan Rusia sekarang,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih usai bertemu dengan Trump.

‘Ditarik dari puing-puing’

Rusia menembakkan setidaknya 70 rudal dan 145 drone ke Ukraina antara Rabu malam hingga Kamis pagi, dengan Kiev sebagai sasaran utama, menurut laporan angkatan udara Ukraina.

“Pada pukul 17.30 (1430 GMT), jumlah korban tewas di distrik Sviatoshinsky, Kiev, telah meningkat menjadi 12,” ungkap dinas darurat Ukraina, dengan korban luka mencapai 90 orang. Rusia menyatakan bahwa target serangan adalah industri pertahanan Ukraina, termasuk fasilitas produksi bahan bakar roket dan mesiu.

Menanggapi pertanyaan soal serangan ini, Lavrov mengatakan kepada CBS News, “Kami hanya menargetkan sasaran militer atau fasilitas sipil yang digunakan untuk kepentingan militer.” Ia menambahkan, “Jika itu adalah target yang digunakan militer Ukraina, maka Kementerian Pertahanan dan komandan di lapangan berhak menyerangnya.”

Sepanjang invasi tiga tahun terakhir, Ukraina telah menjadi sasaran serangan udara Rusia, namun Kiev—yang dilindungi sistem pertahanan udara lebih baik dibanding kota lain—jarang mengalami serangan sebesar ini.

Zelenskyy mengatakan bahwa dalam serangan terbaru, Rusia menggunakan rudal balistik buatan Korea Utara. Olena Davydiuk, seorang pengacara berusia 33 tahun di Kiev, mengatakan kepada AFP bahwa jendela rumahnya pecah dan pintu “terlepas dari engselnya.” “Orang-orang ditarik dari puing-puing,” tuturnya.

Zelenskyy menambahkan bahwa di medan perang, pasukan Rusia melancarkan serangan darat pada Kamis, menyusul serangan udara di Kiev. “Intinya, Rusia berusaha melancarkan serangan darat di bawah perlindungan serangan besar-besaran mereka,” katanya melalui X. “Sementara sebagian besar pasukan kami fokus bertahan dari rudal dan drone, Rusia secara signifikan meningkatkan intensitas serangan darat mereka.”

SUMBER:AFP
Lihat sekilas tentang TRT Global. Bagikan umpan balik Anda!
Contact us