Lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia masih tidak memiliki akses ke air minum yang dikelola dengan aman, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seraya memperingatkan bahwa kemajuan menuju cakupan universal berjalan sangat lambat.
Badan kesehatan PBB dan UNICEF dalam laporan yang dirilis Senin menyebut satu dari empat orang di dunia tahun lalu masih belum memiliki akses ke air minum layak. Lebih dari 100 juta orang bahkan masih bergantung pada sumber air permukaan, seperti sungai, kolam, dan kanal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF mengatakan layanan air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang tertinggal membuat miliaran orang lebih rentan terhadap penyakit.
Dalam studi bersama, mereka menegaskan dunia masih jauh dari jalur untuk mencapai target cakupan universal layanan tersebut pada 2030.
Target kian sulit tercapai
Sebaliknya, mereka memperingatkan bahwa target itu “semakin sulit dicapai”.
“Air, sanitasi, dan kebersihan bukanlah hak istimewa; itu adalah hak asasi manusia mendasar,” kata Kepala Lingkungan WHO, Ruediger Krech.
“Kita harus mempercepat aksi, terutama bagi komunitas yang paling terpinggirkan.”
Dalam hal sanitasi, 1,2 miliar orang telah mendapatkan akses ke layanan sanitasi layak sejak 2015, dengan cakupan meningkat dari 48 persen menjadi 58 persen, menurut laporan tersebut.
Layanan ini didefinisikan sebagai fasilitas yang lebih baik, tidak digunakan bersama dengan rumah tangga lain, serta limbahnya dibuang aman di lokasi atau diangkut untuk diolah di tempat lain.
Jumlah orang yang masih buang air besar sembarangan turun 429 juta menjadi 354 juta pada 2024, atau sekitar empat persen dari populasi dunia.
Sejak 2015, sebanyak 1,6 miliar orang telah memperoleh akses ke layanan kebersihan dasar, yakni fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air di rumah, sehingga cakupan meningkat dari 66 persen menjadi 80 persen, ungkap studi tersebut.